Bersama Senator Marhany Pua, alumni UGM di Sulut (KAGAMA) dan FORWARD gelar diskusi akhir tahun

MANADO, beritanusantara.co.id – Potensi Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara terus bergerak maju dengan beragam polemik dan dinamika yang pelik terus diseriusi banyak pihak. Menyikapinya Alumni Universitas Gajah Mada (KAGAMA) Provinsi Sulawesi Utara yakni Taufik Tumbelaka dan  Forum Wartawan DPRD Sulut (Forward) bersama Senator DPD-RI Daerah pemilihan Sulawesi Utara yaitu Marhani Pua, mencoba mengungkap problematika yang ada lewat kegiatan bertajuk diskusi akhir tahun 2017.

Taufik Tumbelaka membuka diskusi dengan menitik beratkan pada sektor Pariwisata. Kepada peserta diskusi Taufik mengungkapkan peran pemerintah Sulawesi Utara yakni Gubernur Olly Dondokambey sudah berjalan maksimal. Akan tetapi ada beberapa hal yang harus dikaji lebih dalam dan komphrehensif oleh pemerintah. Sebab menurutnya, program pariwisata harus menjadi industri yang memberi dampak pertumbuhan ekonomi langsung kepada masyarakat.

“Belum terlihat konsep bagus pariwisata di Sulawesi Utara. Ambil contoh di Yogyakarta, pariwisata sudah menjadi industri yang  keuntungannya dinikmati semua masyarakat mulai pemilik hotel, penginapan kecil hingga pedagang kaki lima. Industri kerajinan souvenir hidup, akomodasi hotel dilengkapi ornamen khas sehingga wisatawan merasakan langsung suasana daerah,” ujar Taufik Tumbelaka, dalam diskusi yang digelar di Kantor DPD perwakilan Sulut, Kota Manado, Kamis (28/12/2017).

Mantan aktivis UGM ini juga menyatakan sikap kurang setuju penetapan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata di Likupang yang menurutnya akan mematikan aktivitas wisata daerah lain di Sulawesi Utara.

“Penetapan KEK Pariwisata itu seperti memprioritaskan kawasan tertentu, padahal bicara pariwisata universal harus melibatkan potensi wisata semua daerah 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara. Bagaimana dengan program satu objek wisata unggulan di setiap kabupaten dan kota yang digaungkan sebelumnya?” tandas Taufik Tumbelaka.

Sebelumnya, salah satu anggota Forward Sulut, Sisco Manosoh, menyorot program pariwisata pemerintah provinsi kurang menyentuh wilayah Nusa Utara yakni Kabupaten Sitaro, Sangihe dan Talaud.

“Program pariwisata provinsi harus menyentuh 15 kabupaten dan kota, namun kelihatan giat pariwisata hanya fokus di Manado dan Minahasa, sementara daerah lain masih tertinggal,” tandas Sisco Manosoh.

Menjawabnya, anggota DPD-RI, Ir Marhanny Pua, mengakui masih terdapat kelemahan pada program pariwisata di Sulawesi Utara. Sebagai anggota DPD pihaknya terus bersinergi memberi masukan positif kepada pemerintah daerah.

Dijelaskan Marhany, angka kunjungan wisatawan tahun ini hampir 100.000. Itu tentunya harus berdampak positif bagi perekonomian masyarakat. Daerah kunjungan wisatawan harus didukung penyediaan objek wisata sekaligus infrastruktur.

“Industri souvenir harus didorong agar masyarakat daerah ikut menikmati. Pemerintah juga harus mendorong pengembangan wisata di Nusa Utara. Pemikiran Sisco sebagai anak daerah itu bagus!” jelas Marhanny Pua.

Dalam diskusi juga, terungkap banyak hal diantaranya  menyangkut pentingnya pemerintah mencari icon unggulan pariwisata lain selain pulau bunaken. Juga menyangkut keseriusan untuk menghadirkan infrastruktur yang representatif. Termasuk pentingnya mengembangkan pariwisata berbasis adat dan budaya, hingga usulan untuk menggemakan jorgan baru yakni Sulut Sebagai Surga Adat Wisata Dunia.