Kisah Supit Lontoh dan Paat

Oleh : Adrianus Kojongian –

SUPIT bernama panjang Pacat Supit Sahiri Macex, Lontoh terkenal sebagai Lontoh Tuunan atau Lontoh Tuunan Mandagi dan Paat alias Paat Kolano adalah tiga tokoh paling terkenal Minahasa di penghujung abad ke-17 dan permulaan abad ke-18.

Mereka merupakan tiga serangkai penguasa Minahasa. Selain memimpin balak-balak mereka sendiri, posisi perantara yang disandang sebagai Hoofd Hoecums (Hukum) Majoor, membuat kuasanya melebihi para kepala balak lain. Posisi Hukum Mayoor Kepala atau Kepala Hukum Mayoor ini menempatkan mereka sebagai pemimpin dari para kepala balak di Minahasa yang sekedar menyandang gelaran Hukum Mayoor.

Penunjukan Supit, Lontoh dan Paat yang jabatan dan namanya baru tercatat resmi dalam Kontrak 10 September 1689, tapi mungkin sudah terjadi beberapa waktu sebelumnya itu merupakan upaya pemerintah VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) untuk mengatur dan mengontrol para kepala Minahasa yang sejak awal merupakan ‘presiden’ atau ‘raja’ merdeka di wilayahnya masing-masing. Dengan personil VOC di Manado yang sedikit mereka membutuhkan jasa kepala di atas kepala untuk memudahkan komunikasi serta hubungan dagang dan pemasukan berlimpah bagi kas kompeni.

BAKU KERABAT
Uniknya ketiga Hukum Mayoor Kepala Minahasa ini semuanya berasal dari sub-etnis Tombulu, spesifiknya dari Kota Tomohon sekarang. Pacat Supit Kepala Balak Tombariri, saat itu ibukotanya masih berkedudukan di Katingolan, kini area ampiteater Yayasan Masarang Kelurahan Woloan I Utara Kecamatan Tomohon Barat; Lontoh Tuunan Kepala Balak Sarongsong masih di Tulau-Amian Nimawanua kini area persipatan KelurahanTumatangtang dan Lansot Kecamatan Tomohon Selatan, serta Paat Kolano Kepala Balak Tomohon masih bertempat di Nimawanua kini Kelurahan Kolongan I Tomohon Tengah. Kalau kita berjalan kaki, jarak-jarak antar-ibunegeri balak tersebut paling jauh setengah jam saja.

Dari antara mereka bertiga, Pacat Supit yang paling kontroversial, namun paling menonjol sehingga terkesan seakan dialah kepala dan pemimpin mereka, meski yang paling tua adalah Lontoh Tuunan yang kalem dan suka mengalah.

Pacat Supit adalah anak Posumah, seorang panglima Tomohon dari Talete (kini Kecamatan Tomohon Tengah) serta cucu Lumi Worotikan dengan Suey. Kakeknya Lumi adalah Kepala Pakasaan Tomohon dan pemimpin besar Tombulu yang telah mengobarkan peperangan besar mengusir Spanyol dari Tanah Minahasa di 10 Agustus 1644 setelah dihina martabatnya bahkan ditempeleng serdadu rendahan Spanyol. Sukses mengenyahkan Spanyol, ia kelak memimpin pasukan Tombulu dari Tomohon mengusir Raja Bolaang (Mongondow) Loloda Mokoagow hingga ke pesisir selatan Minahasa. Sang kakek kelak tewas di lereng bukit pegunungan Wulurmahatus yang dinamai Worotikan sampai hari ini, untuk mengenangnya.

Ayahnya Posumah dihadiskan sebagai panglima besar Tomohon yang dalam perang pengusiran Spanyol 1644 berhasil mengayau kepala pemimpin Spanyol terakhir di Minahasa (Manado), menurut sejarawan Hersevien Manus Taulu bernama Don Pedro Alkasas. Posumah mengawini wanita bernama Winuni berasal Tombariri, dan melahirkan Supit dan wanita bernama Rego yang kelak dikawini Mumamengko.

Ayahnya meninggal usia muda, terbunuh dalam peperangan dengan Spanyol yang berkali coba menguasai kembali Minahasa, dan diwarugakan di Limondok (Sumondak), negeri lama Talete yang di tahun 2000-an telah berdiri rumah Walikota Tomohon ketika itu Jefferson Rumajar.

Ditinggal mati suami, ibunya Winuni kemudian menerima pinangan Kepala Tombariri bernama Ombeng yang juga menduda setelah istrinya bernama Tongkang meninggal. Maka, Supit kecil pindah dan tinggal di tempat yang kini bernama Katingolan Kelurahan Woloan I Utara yang di masa itu menjadi ibukota Tombariri. Supit bahkan menjadi anak angkat Ombeng yang sangat disayangi melebihi kecintaan Ombeng kepada putranya dari Tongkang bernama Rapar dan Ogi. Tidak heran kemudian Supit di masa berikut tampil menjadi Kepala Balak Tombariri menggantikan Ombeng.

Lontoh Tuunan sendiri adalah keturunan dari para Kepala Pakasaan Sarongsong turun-temurun dimulai dari Kalelekinupit, Sampouw, Tiow dan Manangka. Ia anak Mandagi dengan Kumetar alias Kinetar. Kakeknya adalah tonaas Wuwung yang memimpin Sarongsong dalam perang pengusiran Spanyol tahun 1644. Sedangkan ayahnya Mandagi selain sebagai kepala balak adalah panglima terkenal Tombulu yang memimpin langsung pasukan Sarongsong dalam perang pengusiran Raja Bolaang Loloda Mokoagow tahun 1673.

Paat Kolano yang termuda di antara ketiga serangkai ini adalah keturunan dari penguasa Tomohon dan Ares. Ayahnya Lewlew alias Leilei yang diwarugakan di Talete adalah anak Kepala Tomohon bernama Tamboto dan Winuwus serta cucu tonaas Mokoagow (Rori) yang memimpin kaum Tomohon pindah dari Meiesu. Ibu Paat bernama Mananuner adalah wanita cantik putri dari Kepala Balak Ares Lolong dan Baong.

Pacat Supit mengambil istri resmi tiga orang. Istri tertua bernama Laya berasal Kamasi salah satu dari dua negeri awal Tomohon yang bersisa sampai sekarang (kini masuk kelurahan di Kecamatan Tomohon Tengah). Istri kedua bernama Suanen asal Ares, seorang putri lain dari Lolong, meski ada versi sebagai putri atau bahkan istri muda dari Rumondor Kepala Balak Ares setelah pemerintahan Lolong.

Istri ketiga Supit adalah Woki Konda, putri Kepala Balak Pasanbangko (Ratahan) bernama Watuseke. Istri lain Supit yang dikenal adalah Riri dan Wair dari Tondano serta sejumlah istri lain di berbagai negeri Minahasa. Konon dituturkan, Supit mata kranjang (don juan) dan ada pameo, ‘ada Supit ada wanita’. Bilamana sang kepala melakukan turne di negeri-negeri Minahasa, kepala-kepala balak dan hukum negeri suka menyediakan gadis cantik untuknya.

Memang masih tradisi dan adat seorang kepala atau orang kaya Minahasa di masa lalu apalagi sebelum Kristenisasi lajim memiliki banyak istri dan selir. Tidak heran keturunan Supit Sahiri berkuasa bersebaran dimana-mana. Bukan saja sekedar di Tombariri (lewat Mongi dan Tinangon, anak dari Woki Konda), tapi berkuasa pula di Tomohon (lewat anaknya Rondonuwu dari Laya yang kelak juga berkuasa di Tombariri via keluarga Andries), di Ares lewat anaknya Tololiu Supit dari istri Suanen serta di Tondano lewat istri Riri dan di Ratahan kemudian lewat putrinya dari Woki Konda bernama Kaampungan. Bahkan di Tonsea lewat cucu Aresnya Wongkol Tololiu yang dikawini Hukum Mayoor Xaverius Dotulong.

Kebalikan dengan Supit Sahiri, Lontoh Tuunan termasuk tokoh alim dengan memilih seorang istri saja yakni wanita bernama Sumengkar alias Sengkar, adik Lewlew dan bibi Paat Kolano. Sumengkar banyak dikisahkan sebagai salah seorang wanita cantik nan jelita di Minahasa masa itu. Karena cantiknya, usia dini ia sudah dilamar. Awalnya Sumengkar dikawini Rapar dari Tombariri, kakak tiri Supit Sahiri yang mati muda. Meski telah menjanda dengan tiga anak, kecantikannya konon justru semakin bersinar ketika dilamar Lontoh Tuunan. Dari perkawinannya dengan Lontoh lahir anak-anak bernama Rondonuwu, Pandeirot, Sumindo, Meno, Pangemanan dan Topowene yang kelak menurunkan ‘dinasti’ Waworuntu. Anak tirinya bernama Tiwow, Ringkitan dan Sukar.

Paat Kolano yang termuda dan paling tampan memiliki sejumlah istri. Namun istri resminya disebut bernama Ringkitan anak Lawit dan Eror. Dua anaknya yang terkenal dari Ringkitan adalah Manengkeimuri serta Liwun. Liwun ini yang kelak menurunkan Lontoh Tuunan (2) Kepala Balak Tomohon terkenal sebagai salah seorang pemimpin besar Minahasa dalam perang di Tondano 1808-1809.

Jadi, tiga serangkai Minahasa ini sebenarnya masih memiliki pertalian kekeluargaan yang sangat dekat. Paat Kolano memanggil Pacat Supit dan Lontoh Tuunan sebagai paman.

Kehebatan Pacat Supit Sahiri Macex bukan sekedar pada kepintaran, wibawa dan karismanya saja, tapi juga pada senyumnya yang memikat. Bilamana senyumnya merebak, dan ia mulai berbicara, orang-orang akan terpesona, apalagi bagi kaum hawa. Kilauan dari barisan gigi putihnya, yang terbiasa mengunyah sirih-pinang mengumbarkan daya tarik yang akan membuat wanita gampang jatuh cinta. Bentuk gigi-giginya itu konon kecil persis gigi tikus sehingga sangat memikat siapapun yang memperhatikannya.

Gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta adalah Laya berasal Kamasi. Dari perkawinannya lahir putra bernama Rondonuwu dan seorang putri bernama Liwun. Tidak berselang lama kemudian Supit jatuh cinta kepada Suanen. Dikisahkan bila Supit berkunjung ke Manado untuk urusan jabatannya di Benteng VOC dan bertemu Residen ia akan singgah dan banyak kali bermalam di rumah Kepala Balak Ares bernama Rumondor di Tikala. Sang kepala Ares telah berusia tua, namun mempunyai banyak istri, dan istri mudanya bernama Suanen benar-benar jatuh hati kepada Supit pada pandangan pertama.

Saat acara pesta setelah panen memetik padi baru di Ares, yang di masa itu biasa menjadi ajang perkawinan penduduk Minahasa, Suanen yang menari dan menghibur di depan suaminya Rumondor dan Supit terang-terangan mengungkapkan isi hatinya kepada Supit. Rumondor yang maklum dengan rela hati menyerahkan istri mudanya yang cantik itu menjadi istri Supit.

Mendengar kejadian tersebut, Laya istri pertama Supit marah dan mengancam akan mencabik-cabik Suanen. Maka, Supit yang takut pada istrinya tidak berani membawa istri barunya ke Katingolan ibukota Balak Tombariri. Di Ares ia membangun rumah baru untuk Suanen yang kelak melahirkan anak lelaki dinamai Tololiu.

Beberapa waktu kemudian, di sekitar tahun 1682 Supit memimpin pasukan Minahasa membantu komandan Benteng Manado Sersan Herman Smith menghukum Balak Pasan-Ratahan, Tonsawang dan Ponosakan. Balak-balak tersebut telah masuk Minahasa tapi masih membangkang dengan berupeti kepada Raja Bolaang (Mongondow).

Mendengar Supit yang memimpin langsung pasukan penyerbu, Kepala Balak Pasan (bangko) bernama Watuseke merasa gentar. Ia menggunakan siasat wanita, sebab kesukaan Supit pada wanita cantik bukan rahasia lagi. Putri cantiknya bernama Woki Konda disuruh menyambut kedatangan Supit dan pasukannya di luar Ratahan. Dengan diantar pengiring sambil berhiaskan emas permata, ketika bersua Suanen spontan membuat Supit jatuh cinta. Perkawinan pun berlangsung di Ratahan, membuahkan hasil lain Pasan-Ratahan, Tonsawang dan Ponosakan tidak lagi mendua dan dengan resmi bergabung mutlak sebagai balak-balak Minahasa.

Lagi-lagi Laya istri pertama Supit cemburu dan marah. Sambil merajuk pulang ke Tomohon dan tinggal kembali di rumahnya di Kamasi, ia mengancam akan merobek-robek (kese’en) wajah cantik Woki Konda bila ditemuinya. Pulangnya Laya ke Tomohon justru dianggap kesempatan bagus oleh Supit. Ia membawa istri barunya dari Ratahan ke Katingolan dengan memotong jalan di Sarongsong, sehingga tidak melewati Tomohon karena takut akan ancaman Laya. Woki Konda melahirkan Mongi, Tinangon dan gadis bernama Kaampungen. Ketika Supit meninggal, Mongi membawa ibunya ke Lolah tua, ibukota baru Tombariri sampai meninggal dan diwarugakan di situ.
Supit Sahiri di masa kemudian ketika diangkat menjadi Kepala Balak Tondano di tahun 1710 memperistri dua gadis Tondano bernama Riri dan Wair. Dari Riri ia memperoleh anak bernama Nulu yang dikawini Rambek serta kemudian menurunkan kepala-kepala di Tondano.

Dipercayai pula Supit mempunyai banyak selir di setiap tempat. Dia adalah tokoh berkarisma dan dimana-mana bila berkunjung selalu disambut seperti raja, selalu ditandu seperti para Residen Manado, dihadiahi bermacam hadiah, budak-budak (ata) dan harta lainnya. Namun ditutur, ia mengidap penyakit rematik yang disebut supi’. Bahkan nama penyakit itu dikaitkan bersumber dari namanya.

VERSI
Bagaimana naiknya Supit ke jenjang kekuasaan muncul sejumlah versi. Paulus Supit dan Lodewijk Wenas mengisahkan awalnya Supit mengakali ayah tirinya Ombeng yang sementara menjabat Kepala Balak Tombariri di Katingolan. Saat itu Kompeni Belanda mengundang para kepala Minahasa untuk hadir di Benteng Amsterdam Manado. Lodewijk Wenas menyebut peristiwanya berkaitan dengan Kontrak 10 Januari 1679, meski Paulus Supit menegas terjadi ketika VOC Belanda belum lama mendarat di Minahasa dan mencoba berhubungan dengan kepala-kepala Minahasa.

Konon, Supit mengatakan kepada Ombeng kalau Belanda meminta para kepala datang dengan memakai pakaian berwarna merah. Hal mana tentu saja tidak disetujui Ombeng yang sedang berduka karena baru kematian Winuni, ibu kandung Supit. Maka Supit yang akhirnya dikirim mewakili Balak Tombariri dalam pertemuan di Manado.

Karena pintarnya oleh Belanda Supit diberikan gelaran Kapitein dan diakui sebagai Kepala Balak Tombariri. Ombeng yang menyayanginya menyetujui penggantian dirinya tanpa mengindahkan protes anak kandungnya bernama Ogi yang merasa berhak atas posisi tersebut.

Kontrak Perjanjian 10 Januari 1679 itu, pihak VOC Belanda diwakili oleh Gubernur Maluku Dr.Robertus Padtbrugge untuk atas nama Gubernur Jenderal Rijcloff van Goens. Sedang nama-nama tokoh Minahasa yang ditonjolkan adalah Pacat Supit, jurubahasa Bastian Saway, Hukum Mandey dan Pedro Ranty. Nama Lontoh dan Paat tidak disebut kecuali nama balaknya. Tomohon dalam kontrak berada di urutan ke-6, Tombariri urutan ke-7 dan Sarongsong urutan ke-8.

Dua versi lain dari Paulus Supit, Lodewijk Wenas, Emiel Lontoh dan Arie Mandagi, kenapa sampai Lontoh Tuunan dan Paat Kolano tidak bertanda pada perjanjian itu, adalah karena ulah Supit juga. Versi pertama, Lontoh Tuunan sebagai yang tertua dan pemimpin mereka seperti halnya dengan Paat tidak paham bahasa Melayu. Ketika telah tiba di Manado, sebelum hari pertemuan tersebut, Supit berbicara kepada Lontoh dan Paat. ‘’Kalau Kompeni bertanya, kalian cukup menjawab ene (iya).’’

Maka, di hari pertemuan tersebut ketika Belanda menanya siapa pemimpin mereka, Supit memanfaatkan peluang dengan berbicara Melayu yang dikuasainya bahwa dialah pemimpin mereka, bukannya Lontoh Tuunan. Untuk memperjelas ia bertanya kepada Lontoh dan Paat dalam bahasa Tombulu, ‘’Benar, kan?’’ Tidak mengetahui makna sesungguhnya, Lontoh dan Paat menyahut , ‘’Ene!’’. Maka jadilah Supit yang dianggap kepala sehingga dialah yang meneken Kontrak 10 Januari tersebut.

Masih cerita berkaitan dengan versi ini. Lontoh Tuunan dan Paat akhirnya mengetahui akal bulus Supit dan menolak untuk meneken kontrak tersebut. Konon, baru di masa berikut ketika Belanda ingin memilih pemimpin Minahasa, untuk meredakan ketidaksenangan Lontoh dan Paat terhadap Supit, ketiganya diberi posisi sama sebagai Hukum Mayoor Kepala, yang menurut sejarawan Bert Supit terjadi di tahun 1689.

Versi kedua yang beredar, ketika Belanda mengundang para kepala Minahasa untuk datang menghadiri pertemuan tanggal 10 Januari 1679 di Benteng Amsterdam Manado tersebut, ketiga serangkai Minahasa ini dari Tomohon singgah mandi di sebuah mata air di Pineleng dekat Lota, ibukota Balak Kakaskasen saat itu. Lontoh yang menjadi kepala mereka melepas pakaian kebesaran ketonaasannya dan diambil Supit yang kemudian diterima Residen Manado dan ditunjuk Gubernur Robertus Padtbrugge sebagai pemimpin dengan gelaran kapitein.

Konon, sejak kejadian tersebut, terjadi perang dingin terutama antara Lontoh Tuunan didukung Paat Kolano dengan Supit Sahiri yang berlanjut sampai beberapa keturunan. Apalagi, ketika mereka telah meninggal, masih terjadi perseteruan di kalangan anak-anak mereka. Manengkeimuri anak Paat Kolano dijatuhkan Rondonuwu anak Supit dari Laya sebagai Kepala Balak Tomohon, dimana Rondonuwu dibantu adik tirinya Tololiu dari Ares yang dekat dengan Residen Manado. Perang dingin mereka, menurut Lodewijk Wenas, baru berakhir ketika Lukas Wenas yang membawa ‘darah’ Lontoh Tuunan, Paat Kolano dan Supit Sahiri tampil berkuasa di Distrik Tomohon di tahun 1862, hampir dua abad kemudian.

KONTROVERSI TERNATE
Pacat Supit Sahiri Macex dihadiskan lahir di sekitar tahun 1642, Lontoh Tuunan 1640 dan Paat Kolano tahun 1650. Tentu hadis ini bertentangan dengan tulisan Graafland yang menyebut Supit mencapai usia 110 tahun sehingga tahun lahirnya adalah 1628. Artinya juga mereka tidak pernah ke Ternate di tahun 1654 sebagai duta-duta Minahasa yang mengundang Belanda datang ke Minahasa, seperti banyak dipercayai selama ini.

Sebab dengan hadis demikian, Paat berarti masih bocah dan Lontoh serta Supit baru beranjak dewasa. Namun memperhatikan ketokohan ayah dan kakek mereka yang masih hidup dan berperang aktif mengusir Spanyol di tahun 1644 sangat masuk akal. Paat Kolano baru menjadi Kepala Balak Tomohon di tahun 1680 menggantikan kakeknya Tonaas Tamboto, sedangkan Lontoh mengganti ayahnya Mandagi 1675, dan Supit Sahiri mengganti ayah tirinya Ombeng di tahun 1678 atau 1680.

Nama mereka baru resmi tercantum bersama dalam Kontrak 10 September 1699 dengan Residen Manado Kapten Paulus de Brieving dan Asisten-Residen Samuel Hatting.

MABOK KUASA
Setelah belasan tahun, dominasi dari kepala-kepala Tombulu ini tentu saja mendatangkan ketidaksukaan para kepala balak dari sub-etnis lain. Apalagi kemudian kepemimpinan dari ketiga serangkai ini diwarnai berbagai laporan tindak semena-mena, pemerasan, pilih kasih, dan tidak netral, yang belakangan berbuntut eksodus warga ke Minahasa Selatan yang kemudian dimanfaatkan kerajaan Bolaang (Mongondow) untuk menegaskan kembali klaimnya atas wilayah seberang sungai Poigar.

Bert Supit menyebut yang pertama dipecat adalah Pacat Supit Sahiri Macex tanggal 10 Januari 1711, kemudian Lontoh Tuunan 12 Januari 1712 dan terakhir Paat Kolano 3 Februari 1722. Jabatan Kepala Hukum Mayoor ditiadakan dan Supit, Lontoh dan Paat tinggal sekedar kepala balak di wilayahnya sendiri.

Eksperimen terakhir untuk memilih seorang pemimpin Minahasa di atas pemimpin lain coba diterapkan ulang oleh Gubernur Maluku di Ternate Marten Lelievelt (1739-1744) atas usulan Residen Manado Jan Smit di tahun 1739. Sang gubernur menunjuk anak Pacat Supit Sahiri dari istri Suanen bernama Tololiu Supit yang menjabat Kepala Balak Ares sebagai perantara dengan gelaran Hukum Mayoor Kepala. Tapi kembali upaya itu gagal. Seakan para penyandang gelaran kepala hukum mayoor selalu mabok kekuasaan dan lupa daratan. Meski selalu dibela Residen Manado Johannes Pauwen, jabatan Tololiu Supit akhirnya dicopot tanggal 30 Juli 1743.

Dari tiga serangkai penguasa Minahasa, yang pertama meninggal adalah Lontoh Tuunan di tahun 1719, menyusul Paat Kolano tahun 1725 dan terakhir Pacat Supit Sahiri Macex bulan Maret 1738. Lontoh Tuunan digantikan anaknya Rondonuwu (Lontoh) sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Sarongsong, Paat Kolano digantikan putranya Manengkeimuri sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tomohon, dan Pacat Supit diganti putranya Mongi sebagai Hukum Mayoor, Kepala Balak Tombariri. Anak Supit Sahiri bernama Rondonuwu (Supit) kelak mengambilalih posisi Manengkeymuri di Tomohon.

Kematian Lontoh Tuunan dikisahkan meninggal karena sakit, dan diwarugakan di ibukota Sarongsong saat itu, sekarang lokasi bernama Tulau-Amian Nimawanua. Sayang waruganya tidak diketahui lagi posisinya, terlupakan oleh waktu dan kemungkinan hancur atau tertimbun tanah setelah persitiwa gempa bumi tahun 1845 yang menyebabkan penduduknya pindah ke lokasi Sarongsong sekarang di bagian timur ‘kota’ tua itu.

Versi lain yang berlatar kisah yang banyak berkembang sebelumnya (terutama di periode pemerintahan Gubernur H.V.Worang) sampai waruga Lontoh dan Paat ada di Treman Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara (di samping gereja GMIM ‘Eben Haezar’) adalah karena mereka merupakan pribadi dan kepala orang Tonsea. Bahkan ada penulis menggambarkan Paat Kolano sebagai Kepala Tombulu, Supit Kepala Toulour dan Lontoh Kepala Tonsea.

Versi Treman, Lontoh ini sebagai pendiri Treman di tahun 1776. Versi lainnya yang mempertegas klaim waruga Treman ini sebagai milik Lontoh dan Paat adalah silsilah yang mengungkapkan mereka sebagai tokoh asal Tonsea juga kerabat dekat. Lontoh adalah anak Regar dan Ringking, serta mengawini Amben putri Runtulangi dan Tolang Pinorotan. Lalu Supit adalah anak Tidadas (kakak Amben) dengan Kowulan, sedangkan Paat anak Kokory Pinasoke (kakak kedua Amben) dengan Soerensina.

Tentang kematian Paat Kolano selain kisah meninggal wajar di usia tua dan diwarugakan di Tomohon, meski juga buktinya tidak ada lagi, karena Nimawanua bekas lokasi kota lama Tomohon sampai tahun 1845 telah menjadi kompleks hunian cukup padat di Kelurahan Kolongan, berkembang versi kalau nasibnya berakhir tragis. Paat meninggal karena dibunuh, bahkan sampai dipenggal kepalanya.

Konon, kejadiannya ketika ia pergi ke Tonsea dari Tomohon, ia dihadang di lokasi berdekatan Airmadidi lalu dibunuh dan mayatnya dilempar ke dalam jurang. Namun, di Tondano beredar kisah lain kalau Paat telah dibunuh di Tataaran, malahan musuh-musuhnya sampai memenggal kepalanya.

Memang, mengherankan Belanda seakan enggan mengusung nama Lontoh dan Paat. Berbeda dengan Pacat Supit Sahiri yang jasa-jasa dan namanya kemudian begitu dihormati Belanda sejak dekade kedua abad ke-20. Setiap tahun sampai dengan Belanda angkat kaki dari Minahasa di tahun 1949, saban tanggal 10 Januari dilakukan peringatan penandatanganan Kontrak 10 Januari 1679.

Upacara resminya dengan dipimpin Residen Manado bertempat di monumen peringatan 250 tahun perjanjian Belanda-Minahasa yang dibangun tahun 1929, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ziarah ke waruga sahiri (saksi) perjanjian tersebut, Pacat Supit di depan gereja Protestan Woloan (kini gereja GMIM ‘Eben Haezar’ Woloan II) yang ikut dipugar di tahun 1929 dibawah petunjuk Asisten-Residen Manado Max Hamerstar.

PINDAH DUA KALI
Ketika Pacat Supit Sahiri Macex meninggal di Tomohon bulan Maret 1738 terjadi keributan besar. Jenasahnya saling diperebutkan balak-balak besar Minahasa. Ares, Tombariri, Tondano dan Tomohon. Masing-masing ingin Supit diwarugakan di wilayahnya. Putranya dari istri Ares Suanen, yakni Hukum Mayoor Tololiu yang sangat dekat dengan Residen Manado menginginkan Supit dikuburkan di Tikala ibukota Ares. Putranya dari istri Woki Konda di Tombariri yakni Hukum Mayoor Mongi ingin Supit dikuburkan di Katingolan ibukota Tombariri. Begitupun putranya di Tondano mengklaim ayahnya lebih pantas dikubur di Tondano.

Namun kemudian semuanya tidak berdaya, karena kakak tiri mereka yang merupakan putra paling tua Supit dari istri pertama Laya, yakni Hukum Mayoor Rondonuwu mengambil keputusan Pacat Supit akan dikuburkan di Kamasi, berdampingan waruga Laya.

Putra-putra lain Pacat Supit cukup puas, namun tidak demikian dengan Mongi serta para kepala Tombariri lainnya di Katingolan. Mereka merencanakan akan mencuri waruga Supit di Kamasi. Rencana tersebut dijalankan pada suatu malam ketika penduduk Kamasi benar-benar tertidur pulas.

Puluhan pria Tombariri menarik waruga Pacat Supit dari liangnya dengan menggunakan tali yang terbuat dari bambu teling muda (buluh tumatikak). Selama penggalian waruga itu, para wanita Tombariri melakukan tarian Sinauan untuk memberi semangat. Maka, tidak lama waruganya terangkat, lalu dipikul beramai-ramai ke barat ke lokasi ibukota Tombariri di Katingolan sekarang. Ritual Sinauan memimpin mereka sampai waruga tiba di negeri, dan kemudian dikuburkan ulang.
Rondonuwu awalnya marah dengan ulah adik tirinya, namun kemudian setelah Mongi memberi alasan bahwa ayah mereka paling layak dan pantas dikubur di Katingolan tempatnya lama memerintah, ia menerima.

Setelah Mongi memindahkan ibukota Balak Tombariri ke Lolah, bekas ibukota lama di Katingolan tinggal menyisakan negeri bernama Woloan yang kemudian dihancurkan gempabumi dahsyat tanggal 8 Februari 1845. Gempa yang sering dikaitkan dengan letusan gunung Lokon itu berlangsung selama sembilan hari sembilan malam, menelan banyak korban jiwa, terjadi retakan besar di sana-sini dan ancaman longsor di bagian utara dan selatan Katingolan yang memang bertebing. Penduduk Woloan makin sengsara karena saat itu pun berjangkit wabah penyakit.

Para pemimpin Woloan di Katingolan ketika itu, dihadiskan Tonaas Rumondor, Walian Pontoh, Putoosan Kapoh dan Teterusan Makal menyepakati memindahkan Woloan ke tempat aman di bagian selatan, lokasi sekarang. Untuk rencana pemindahan tersebut sampai dilakukan tiga kali acara Linigauan, baru diperoleh tanda baik. Pemindahan Woloan di tahun 1845 itu juga berlangsung semarak. Waruga Pacat Supit ikut ditarik dari liangnya dan diusung beramai-ramai ke lokasi baru yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer.

Pemindahan negeri serta waruga Supit tersebut dimeriahkan dengan pesta rakyat. Penduduk menabuh bunyi-bunyian serta memainkan musik lengdeng, yakni gitar dari bambu yang diketik-ketik dan berbunyi deng-deng. Khusus ritual waruga Pacat Supit yang ditarik mengunakan tali buluh tumatikak disemaraki wanita-wanita yang menarikan tari Mangaloong. Akhirnya waruganya ditanam kembali di tengah-tengah pemukiman baru (kini masuk Kelurahan Woloan II Kecamatan Tomohon Barat).

Ketika Zendeling Tanawangko Nicolaas Graafland melakukan pembaptisan pertama di Woloan 14 Oktober 1860, ia segera membangun gereja sederhana di dekat waruga Pacat Supit Sahiri yang saat itu menjadi pusat kegiatan agama alifuru warga Woloan. Gereja yang berkembang dengan nama gereja Protestan bersimbol ayam dan kemudian bernama Eben Haezar kini, seakan identik dengan waruga Supit yang telah berkali mengalami pemugaran.

Inskripsi nisan Pacat Supit Sahiri dalam bahasa bahasa Melayu tua dengan huruf kapital adalah : ‘Inilah Coubur:Der.Hocom Majo:r.Soupit:Ter:D:B: M:S:1738.(***)

Maria Josephine Catherine Maramis

Maria Josephine Catherine Maramis (lahir di Kema, Sulawesi Utara, 1 Desember 1872 – meninggal di Maumbi, Sulawesi Utara, 22 April 1924 pada umur 51 tahun). Maria Walanda Maramis, adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia karena usahanya untuk mengembangkan keadaan wanita di Indonesia pada permulaan abad ke-20. Read more