Gempa Bumi dan Awal Tradisi Memasak Dalam Bulu (Bambu) Orang Minahasa

PADA sekira tanggal 04 Februari Tahun 1845 di Malesung (sebuah kurun waktu yang lebih dahulu sebelum penyebutan nama Minahasa), pernah terjadi Gempa Bumi yang sangat hebat dan berlangsung selama 9 (Sembilan) hari lamanya.

Akibat peristiwa ini terjadilah eksodus besar orang-orang negeri Tombariri yang bermukim di satu dataran bernama Nimawanua atau Nawanua (Bekas Neg’ri) ke tempat lain yang lebih aman.

Pada masa bencana alam gempa bumi ini, orang-orang yang berpindah tidak bisa meletakkan belanga di atas tungku kayu untuk memasak. Alhasil ditemukanlah cara memasak yang lebih praktis, untuk melangsungkan kehidupan (Memasak).

Semua bahan bahan makanan berupa Beras, Bahan Sayuran, Daging Babi Hutan serta daging hewan lainnya, kemudian dimasukkan dalam Bulu (Bambu) kemudian dikat dan diletakkan berdiri pada sebatang kayu yang melintang, kemudian dibakar hingga matang dan dimakan bersama-sama pada waktu itu.

Ini adalah awalmula tradisi masak dalam bulu orang Minahasa dan tetap bertahan hingga sekarang, dan bukan hanya makanan pokok saja yang bisa dimasak dalam Bulu (Bambu), hampir semua makanan khas Minahasa, sudah pernah beralih ke media masak Bambu. Namun belum disebutkan manfaat memotong bambu (Teto’den-Tonsea) dengan ruas terbalik untuk dimanfaatkan ¬†menjadi media masak.¬†(foto berbagai sumber dan data Pustaka Malesung)