Mantehage, Pulau Berbasis Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Untuk Peningkatan Kapasitas dan Ekonomi Penduduk Pulau Kecil

PENGEMBANGAN PULAU MANTEHAGE SEBAGAI SALAH SATU PULAU TERDEPAN REPUBLIK INDONESIA BERBASIS PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN KAPASITAS DAN EKONOMI PENDUDUK PULAU KECIL

Oleh : Dr. Joshian Nicolas William Schaduw, S.IK, M.Si.

Provinsi Sulawesi Utara memiliki 12 pulau terdepan yang tersebar dibeberapa kabupaten/kota, salah satunya adalah Pulau Mantehage. Pulau ini masuk dalam wilayah administrasi Kecamatan Wori, Kabupaten Minahasa Utara. Pulau ini merupakan satu dari lima pulau kecil yang masuk dalam kawasan konservasi Taman Nasional Bunaken. Pulau ini memiliki keunikan karena memiliki ekosistem mangrove terbesar yang ada di Sulawesi Utara. Potensi sumberdaya alam pulau ini sangat beragam, mulai dari ekosistem yang ada dipesisir seperti mangrove, padang lamun, dan terumbu karang hingga potensi pertanian/perkebunan yang ada pada daratan pulau ini.


Potensi ini sangat mendukung kelangsungan hidup masyarakat yang menggantungkan hidupnya terhadap sumberdaya alam. Salah satu potensi yang sementara dikembangkan pulau ini adalah ekowisata mangrove dan underwater ecotourism. Strategi ini dibuat tujuannya agar kawasan Taman Nasional Bunaken yang dulunya hanya dikenal dengan Pulau Bunaken, kini memiliki destinasi wisata alternatif lainnya disekitar pulau Bunaken.

Keindahan alam Pulau Mantehage sebenarnya tidak kalah dari Pulau Bunaken, riset yang dilakukan oleh Dr. Joshian Nicolas William Schaduw, S.IK, M.Si dan tim sejak tahun 2018 hingga saat ini menunjukkan bahwa pulau ini sangat layak untuk dikembangkan menjadi alternative wisata dimasa akan datang.

Tahun 2018 melalui hibah riset dari Pusat Penelitian Oseanografi (P2O) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dengan skema Demand Drive Research Grant (DDRG) pulau ini masuk dalam kategori pulau yang memiliki tutupan terumbu karang yang baik disertai kenaaekanragaman ikan karang yang melimpah, selanjutnya pada tahun 2019 melalui hibah Riset Terapan (RT) dari Kemenristek-Brin kajian dilakukan pada ekosistem mangrove dan lamun melaporkan bahwa kedua ekosistem sangat layak untuk dikembangkan sebagai objek wisata.

Tahun 2020 melalui skim yang sama ditambah dengan skim pengabdian masyarakat skim Pengabdian Pada Masyarakat Unggulan Perguruan Tinggi (PPMUPT) tim dari Unsrat ini juga melakukan kegiatan peningkatan kapasitas masyarakat berupa pelatihan selam bagi penduduk pulau Mantehage disertai dengan penentuan beberapa lokasi menyelam yang mempunyai potensi untuk dikembangkan dimasa akan datang.

Dijelaskannya, pada tahap pertama ditahun 2020, sebanyak 4 orang penduduk pulau dipilih untuk mengikuti pelatihan selam, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan ketrampilan dan kemampuan menyelam, sekaligus memberikan sertifikat selam sebagai modal kerja bagi mereka yang nantinya akan mengembangkan usaha diving center dipulau tersebut. Mereka juga diajak untuk menentukan lokasi menyelam terbaik sekitar pulau, tujuannya agar rasa memiliki akan sumberdaya ini tetap terjaga. Selain itu, pulau ini juga memiliki potensi budidaya yang layak untuk dikembangkan antara lain budidaya karang hias dan budidaya rumput laut. Keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan masyarakat pulau ini membuat mereka belum mengambil peluang ini.

Diharapkan melalui riset dan pengabdian yang terus digalakkan ini beberapa tantangan dan masalah bisa mendapatkan solusi, sehingga pulau terdepan ini bisa sejajar pembangunannya dengan daerah yang lain. Tahun depan sesuai dengan permintaan pihak Desa Mantehage mereka meminta agar bisa mendapatkan teknologi budidaya karang hias dan pengembagan artifial reef sebagai upaya untuk mengkonservasi kawasan perairan, sekaligus menjadi objek wisata yang bisa meningkatkan ekonomi penduduk pulau ini. Mereka juga meminta agar program pelatihan penyelaman dan sertifikasi gratis bagi penduduk pulau ini dapat dilakukan setiap tahunnya, mengingat pemuda pulau ini memiliki potensi sebagai penyelam profesinal tetapi memiliki kendala pada saat sertifikasi dikarenakan biayanya yang sangat mahal. Masayarakat pulau ini sangat berharap dengan hadirnya akademisi disana akan memberikan harapan baru bagi mereka dalam mengembankan potensi pulau tersebut.