Pemprov Sulut Diserukan untuk lestarikan tarian adat budaya Minahasa sesuai aslinya

MANADO, beritanusantara.co.id – Anggapan bahwa Tarian Kawasaran telah mengalami pergeseran pemaknaan sebagaimana diasumsi Dinas Kebudayaan Daerah, menuai reaksi pemerhati Adat Budaya Minahasa, Jan MMN Wowor,MA, MM. Menurutnya, Pemerintah Provinsi Sulut seyogyanya harus bisa mengayomi dan melestarikan semua jenis tarian Adat Budaya Minahasa sesuai dengan aslinya.

Jan Wowor selaku pengiat Kawasaran Malesung dari Sanggar Kinamang pimpinan Tonaas Yulius Pinontoan, mempertanyakan kebijakan pemerintah saat ini dalam menyikapi kemajuan dan perkembangan pelestarian tarian Kawasaran.  “Mengapa tarian Kawasaran baru beberapa tahun ini mulai kembali terlihat dan mulai banyak yangg senang dengan tarian ini, terlebih dengan tou kawanua di perantauan?. Mungkin kalau di kampung halaman banyak yang tahu dan mengenalnya,  tetapi anak cucu kita yang lahir di luar kampung halaman, sama sekali tidak tahu dan mengenal tarian tersebut. Masih banyak yang mengatakannya sebagai tarian Dayak. Nah! bgmn Pemda Sulut menyikapi hal tersebut?,” ujar Jan melalui WhatsApp kepada beritanusantara.

BERITA TERKAIT : Tarian Kawasaran disebut telah mengalami pergeseran makna

Lanjut disampaikannya, saat atraksi seharusnya di tunjukkan keaslian dari tarian Kawasaran.  “Namanya juga tarian perang di jamannya mereka-meraka adalah WARANEY, masa WARANEY  manari dengan ketakutan dan tersenyum. klo memang pake peda (pedang) asli kenapa tidak?. Lihat tarian Jawa yg menggunakan keris, apakah mereka menggunakan keris palsu, tari kecak di Bali, tari Perang Dayak, Debus di Banten, di Aceh potong-potong lidah, tarian Adat Budaya Tator, tarian Adat Budaya Papua. Juga baru-baru ini di Asian Games, Tarian Wussu menggunakan pedang asli, dan lain-lainnya, dan saya pikir itu tidak mengalami pergeseran,” sebut pelaku budaya berusia 80 tahun dan masih aktif tampil sebagai penari Kawasaran itu.

Lebih lanjut kata dia, awalnya kawasaran berupa pasukan yang akan berperang dan menjadi Tarian Adat Budaya Minahasa untuk acara-acara penyambutan tamu VVIP. Dan ini  sudah dilakukan sejak jaman Belanda. sedangkan di jaman sekarang ditampilkan untuk mengisi acara dalam penyambutan tamu, pelantikkan ketua-ketua roong taranak di perantauan, perkawinan, hut dan lain-lain. “Mungkin saja untuk asesoris yang di pakai boleh-boleh saja yang palsu, karena asesoris hewan yang di pakai tersebut sudah dilindungi, dan itu cuma sebagai simbol. Tetapi tapi kalau peda (pedang) masa yang palsu, itu sama saja orang bilang tarian palsu, akhirnya hilang jati diri,” pungkasnya.