Shinkansen dan Burung Manguni

Dicopy dari Tulisan Perjalanan Wartawan Senior Sulut Friko Poli

BAHASA Jepang Shinkansen artinya “Kereta Peluru”. Sesuai namanya, alat transportasi antar kota di Negeri Matahari terbit ini memang melesat sangat cepat. Kecepatannya bisa menyamai mobil balap Formula 1 (F1). Shinkansen dapat dipacu rata-rata 320 sampai 350 kilometer per jam. Artinya untuk Manado-Tomohon, bisa ditempuh dengan waktu di bawah 5 menit.

Malah informasi terakhir yang saya baca, moda transportasi super cepat ini terus ditingkatkan performanya, agar bisa digenjot sampai 600 km per jam. Wow !
Hebatnya lagi, dengan kecepatan bak peluru, stabilitas shinkansen tetap terjaga. Penumpang tidak merasakan adanya getaran atau bunyi-bunyian yang mengganggu telinga.

Itu yang saya rasakan ketika naik shinkansen dari Kota Tokyo ke Osaka, Jepang. Jarak kedua kota sejauh 515 km, ditempuh kereta ini dalam waktu 2,5 jam saja. Itu pun karena kereta ini sempat transit di sejumlah stasiun kereta antara Tokyo dan Osaka.

Naik “kereta peluru” ini benar-benar nyaman. Getaran hampir tidak terasa. Bayangkan saja, botol air mineral yang saya letakkan di atas meja, tidak bergeser sedikitpun ketika menempuh perjalanan dari Tokyo ke Osaka. Bahkan kalau boleh membandingkan, masih lebih nyaman naik shinkansen dibandingkan pesawat terbang yang kerap mengalami ‘turbulence’.

Yang mencengangkan, sejak dioperasikan tahun 1994 silam, tidak ada kecelakaan fatal pada moda transportasi andalan Jepang ini. Segala sesuatu dirancang dengan penuh perhitungan. Bahkan untuk mengantisipasi gempa yang kerap melanda Jepang, shinkansen dilengkapi dengan sistem deteksi gempa.
Kereta ini akan berhenti otomatis jika terjadi gempa yang bisa membahayakan larinya kereta di atas rel. Namun awal kehadiran kereta ini sendiri, bukannya tanpa berbagai kendala ketika pertama diluncurkan. Salah satu yang menjadi masalah, adalah terkait suaranya yang sangat berisik. Ini akibat aerodinamika dari gesekan pantograf dengan udara ketika kereta meluncur cepat.

Pantograf adalah alat pengait di atas kereta yang juga berfungsi menjadi penyalur listrik ke kereta. Menariknya, ketika mengatasi masalah ini, para insinyur Jepang terinspirasi dari anatomi burung manguni (burung hantu). Seperti diketahui, burung hantu adalah burung yang terkenal dengan ketenangannya, begitu juga ketika mereka berburu. Burung hantu mampu menangkap buruannya tanpa mengeluarkan suara kepakan sayap sedikitpun, sehingga buruannya sama sekali tidak pernah menyangkanya.

Dari amatan yang detail gerak dan gerik manguni, ternyata ketenangan itu ada pada sayap manguni yang bergerigi. Berangkat dari itulah, sehingga para desainer dan insinyur Jepang mengubah desain pantograf menyerupai sayap burung manguni. Pantograf didesain bergerigi-gerigi kecil layaknya bulu burung hantu.

Masalah berisik pun terpecahkan. Ketenangan shinkansen makin sempurna ketika moncong depan kereta dibikin mirip paruh burung cekakak (raja udang). Kelihaian burung ini dengan paruhnya yang runcing mampu menangkap ikan di dalam air, tanpa berisik dan banyak menimbulkan percikan air. Ketika bentuk paruhnya diadaptasi dengan moncong shinkansen, kereta ini mampu melesat dengan halus melewati terowongan.

Bahkan lebih daripada itu, moncong shinkansen yang terinspirasi dari burung itu, berhasil menurunkan tekanan udara sebanyak 30 persen, dan mampu menghemat listrik sebanyak 15 persen. Itulah sebabnya shinkansen menjadi kereta peluru yang stabil dan nyaman.

Tuhan menciptakan alam dan isinya, termasuk hewan-hewan dan tumbuhna di dalamnya, semua untuk manfaat bagi manusia. Sedangkan kita sebagai manusia adalah maha karya terbesarNya. Ingat, kita diciptakanNya dari nafasNya sendiri. Ada hembusan napas Tuhan dalam diri kita. Ada keturunan pemilik Surgawi mengalir dalam darah kita.

Karena itu tegakkan kepala. Kita bukan manusia rata-rata. Kita diciptakan dengan luar biasa. Bangunlah setiap pagi dan ingat siapa Pelukis Agung kita. Manguni saja bisa menjadi inspirasi teknologi termoderen. Apalagi kita yang adalah Maha KaryaNya. Tak ada yang tak mungkin bagiNya untuk kita. (***)