SSR-PKBI Sulut Gelar Sosialisasi Potensi IMS, HIV dan AIDS Lewat Penasun

TOMOHON, beritanusantara.co.id – Giat pencegahan terhadap penyebaran dan penularan penyakit HIV/AIDS terus dilakukan di Kota Tomohon. Satu diantaranya lewat kegiatan pendidikan prilaku yang melibatkan kelompok masyarakat rentan, sebagaimana digelar oleh SSR Penjangkauan Populasi Kunci – Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Provinsi Sulut dengan disponsori oleg Global Fund – New Founding Request (GF-NFR), dan dipusatkan Gedung Puskesmas Matani, Kecamatan Tomohon Tengah, Selasa (18/9/2019).

Billy Wowor selaku koordinator PKBI sekaligus motor dari kegiatan ini menjelaskan, program pendidikan karakter dikemas lewat bentuk penyuluhan atau sosialisasi. Substansi utamanya kata Billy, adalah tentang pencegahan serta ancaman penularan penyakit HIV/AIDS lewat Penggunaan Jarum Suntik (Penasun) atau saat ini dikenal dengan sebutan┬áPeople With Injection Drugs (PWID). “Ini adalah kegiatan yang digelar secara rutin. Tujuannya, untuk membekali pendidikan kesehatan bagi masyarakat terutama kelompok rentan,” sebut Billy yang juga selaku Program Manager di IPWIL Napza, Tampusu-Minahasa.

Lanjutnya, peserta kegiatan ini diharapkan dapat ikut menyebarluaskan pentingnya pendidikan kesehatan kepada masyarakat luas. “Kondisi saat ini sudah bukan lagi pada tahap pencegahan, tetapi sudah masuk fase pengendalian. Karena itu sangat penting bagi semua masyarakat untuk dapat bekerja sama menyikapi hal ini, ” ujar Billy.

Penyuluhan/sosialisasi ini menghadirkan beberapa pembicara dari Garga Mencegah Dan Mengobati (GMDM) Provinsi Sulut, yakni Agustinus Musak dan Willy Toha. Dalam pemaparannya, Agustinus dan Willy membeber potensi penyebaran HIV/AIDS lewat pengunaan jarum suntik. “Penyakit ini menular bukan hanya karena seks bebas, tetapi juga karena penggunaan jarum suntik yang tidak steril, atau pengunaan secara bersama-sama. Biasanya yang rawan adalah pengguna narkoba yang kerap menggunakan jarum suntik secara bersama-sama,” sebut keduannya.

Diketahui, selesai sosialisasi dilanjutkan dengan pemeriksaan darah kepada para peserta, guna mendeteksi penyakit HIV-AIDS. Proses pemeriksaan dilakukan oleh Fitria Telah, staff perawat di Puskemas Matani, Pemkot Tomohon. “Sebanyak 20 peserta yang mengikuti sosialisasi bersedia melakukan pemeriksaan. Terkait hasilnya, apakah positif atau negatif nanti akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Tidak perlu kuatir, karena hasil pemeriksaannya dirahasiakan,” tutur Fitria.(*)