Tarian Kawasaran disebut telah mengalami pergeseran makna

MANADO, beritanusantara.co.id – Atraksi tarian Kawasaran yang akhir-akhir ini semakin sering tampil dalam berbagai hajatan, pemaknaannya disebut telah mengalami pergeseran. Pelaksana tugas (plt) Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut, Fery Sangian, dengan lantang menyampaikan hal itu dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPRD Sulut, Rabu (24/10/2018).

Fery beralasan, pergeseran pemaknaan itu terjadi khususnya saat tampil dalam momentum penjemputan tamu. Dimana, kesan yang ditampilkan seolah-olah wilayah Sulut sedang berperang. “Pergeseran pemaknaan yang dimaksud, ketika tarian Kawasaran sebagai tarian perang ditampilkan saat menjemput tamu, seolah-olah kita mau perang,” ujar Ferry.

Suasana rapat dengar pendapat antara komisi IV DPRD Sulut dengan Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulut, Rabu (24/10/2018)

Apalagi lanjutnya, atribut tarian Kawasaran kebanyakan menggunakan peralatan asli. “Karena itu, saatnya kita berpikir atraksi Kabasaran bisa lebih ‘cool’ saat tampil,” ujar Fery seraya menambahkan jika kedepannya atribut asli (parang dan tombak) bisa menggunakan alat yang terbuat dari bahan sintetis.

Selain itu, kepada wartawan seusai rapat dengan Komisi IV DPRD Sulut, Kadis Ferry juga mengakui bahwa tarian Kawasaran atau Cakalele adalah warisan budaya milik dua daerah yakni Minahasa dan Maluku. Hanya saya, bentuk pelesatariannya lebih berkembang di Minahasa atau Sulut. “Kawasaran atau cakalele ini adalah warisan budaya tak benda yang sudah bersertifikat,” ulasnya lagi.