Wakil Rakyat Sulut dan Nelayan Sepakat Cari Solusi Melalui Hearing Gabungan

MANADO, beritanusantara.co.id –
Aksi demonstrasi ratusan nelayan di DPRD Sulut, Senin (23/7/2018) terkait ketidak-puasan atas implementasi PP nomor 14 tahun 2018, dipastikan masuk pada ranah kebijakan politis. Pasalnya, bentuk penyelesaiannya kini bergantung penuh pada rekomendasi legislatif, yang nantinya akan disolusikan lewat rapat dengar pendapat atau hearing gabungan lintas komisi di DPRD Sulut.

Itu sebagaimana kesepakatan yang terjalin antara nelayan dengan dua legislator yang menerima aksi demo, yakni Fanny Legoh dari Fraksi PDI-P dan Yongkie Limen dari Fraksi Partai Golkar.

“Kami mendesak adanya hearing gabungan atau lintas komisi kerja DPRD, karena masalah ini sangat kompleks dan menyangkut nasib ratusan nelayan,” ujar Lucky Sariowan, Ketua Asosiasi Nelayan Pajeko Sulut.

Anggota DPRD Sulut Fanny Legoh dan Yongkie Limen, saat menjamu demo nelayan

Disampaikan Lucky, substansi utama dari aksi protes nelayan adalah menyangkut aturan Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) terkait perizinan operasi kapal di atas 30 Gross Ton. Menurutnya, PP 14/2018 tentang pengelolaan perizinan bersama terintegrasi secara eletronik. Itu kemudian diikuti dengan surat edaran dirjen perikanan yang mewajibkan pelaku usaha pajeko mengajukan perizinan berupa SIUP, SIPI dan SIKPI secara online.

“Pengurusan ijin diwajibkan secara online atau melalui system website, namun setelah kami periksa website itu belum ada. Padahal jatuh tempo pengurusan ijin sudah dekat. Ini tentu saja mengancam akan ada banyak izin yang tidak bisa diperpanjang. Juga, aturan ini tak pernah disosialisasikan,” ungkapnya.

Menanggapi hal ini, wakil ketua Komisi IV DPRD Sulut Fanny Legoh dan Anggota Komisi III DPRD Sulut Yongkie Limen, sepakat untuk menindaklanjuti masalah ini dengan serius.
“Ini masalah yang sangat penting, dan aspirasi ini akan diteruskan ke pimpinan dewan, untuk mendapatkan persetujuan dilakukannya hearing gabungan. Dan kami tentu akan memperjuangkan hal tersebut,” ujar Fanny yang dibenarkan Yongkie.

Penulis : jeffrie montolalu